[twenty-something]
everything starts here..

Cerita 14 : Satir

Gila, ternyata saya bener-bener kangen ama Dendra, Mayo dan Ijho.

Jum’at malam, tanggal 21 Desember akhrinya saya memutuskan untuk pergi ke rumah Dendra di bilangan Bintaro. Seperti biasa, perjalanan di Jakarta malam hari dipenuhi lampu-lampu yang bikin mood jadi semangat, tapi Jakarta malam itu agak sepi, karena banyak yang keluar kota saya pikir. Sesampainya di rumah Dendra, saya masuk kamarnya, hahaha masih terasa banget ingatan saya waktu beberapa bulan setelah ditinggal Mayo pergi ke Jepang, di kamar Dendra kita cuma tiduran di karpet sambil dengerin lagu Coldplay – Fix You, ditemenin lampu remang-remangnya yang bisa berputar sendiri. Benar-benar waktu yang miris. Ok, akhirnya setelah pamitan ama bokap nyokapnya kita berdua cabut ke sektor 7, makan nasi goreng. Sambil menikmati nasi goreng, kami bercerita, atau lebih tepatnya berkhayal, coba Mayo ama Ijho ada di sini sekarang bareng kita, pasti lengkap banget. Setelah selesai menyantap nasi goreng, kami cabut ke tempat yang lebih pewe, Oh La La Cafe yang baru buka di Bintaro jadi tujuan kami. Sesampainya di sana, kami melihat ke sekitar, yaaahh orang-orang dengan teman-temannya masing-masing, terlihat fun banget mereka, hahahaha i wish…. Ok, akhirnya kita duduk setelah memesan Hot Chocolate.

GILA! omongan kami bener-bener gila, dari yang masa lalu banget awal-awal kami semua bisa kenal sampai mengkhayal tentang masa depan dimana kami berencana untuk reuni di mana aja, dan sepertinya akan enak kalo di Singapur. Hahahaha.. bener-bener ngayal kami.. Kami tertawa, lepas, dan jujur, saya sudah lama sekali tidak tertawa seperti itu, Tawa itu ikhlas banget, dateng dari dapur hati yang paling pojok. Karena mungkin joke-joke kami sama, dan hanya kami yang mengerti. Kalau di dunia selain kami berempat, pasti joke-joke kami itu dianggap basi, membingungkan, atau yang paling sering adalah LEBAY kalo kata anak-anak gaul jaman sekarang. Yap, kami tertawa-tawa saja berdua udah seprti pasangan gay, ahahaha..jijik abis.. Tapi ya itu, kenikmatan yang ga bisa dibeli dan ditawar dimanapun. Akhirnya kami sampai pada obrolan tentang ‘life recently’, dan tebak apa, ternyata kami berdua mengalami nasib yang sama lagi, kali ini tentang love life, ahahahaha…Cerita kami mirip! Apalagi kalu dilihat dari pihak ketiga yang karakternya sama!! Agak vulgar kalau saya sebutkan disini, lebih baik tanya langsung saja,haha.. Dan jam menunjukkan pukul 11 lebih lima menit, dan Hot Chocolate kami bener-bener udah ga Hot lagi. Kami memutuskan unutk cabut.

Di rumah Dendra, saya memilih untuk ngobrol-ngobrol di teras aja, selain bisa ngrokok, juga lebih asik aja. Akhirnya kita lesehan di lantai, nyalain rokok, dan melanjutkan obrolan kami. Dan akhirnya setelah semua orbolan gila tadi, kami memutuskan untuk tetap yakin bahwa kami semua akan bertemu lagi suatu saat nanti, entah dimanapun itu. Kami akan bertemu dan mendapatkan suatu laughter at the beginning, and then silence at the end.. Yap, itulah kebiasaan kami yang ga dibuat-buat dan ternyata masih terjadi saat kami jalan berdua ini. Pas berangkat, slalu menggila dan cenderung ga waras, tapi saat perjalanan pulang, kami terlihat diam dan cenderung depresi, dan di mobil kami biasanya memutar lagu-lagu yang menenangkan jiwa sebagai pengantar lamunan kami.

Sip, ribuan kata mungkin udah terlontar dari mulut kami berdua malam itu, hanya berdua sudah sangat seru, apalagi berempat, saya pasti tak ingin pulang rasanya. Dan dari ribuan kata itu, muncul satu kata yang aneh yang Dendra beri tahu saya..

Satir…

Dendra ga tau persis artinya apa, tapi kami langsung bisa ngebaca dan ngartiin itu. Hmmm gimana ya, satir adalah semacam perasaaan ironis, miris, tapi mesti dikikis pelan-pelan agar tak menghambat hidup, dan kalau perlu ditutup-tutupi supaya perasaan itu tidak menular ke orang lain. Yah, kira-kira begitulah itulah satir menurut kamus di otak saya…

“Saat kita tertawa dan melamun dengan orang yang punya kontak batin dengan kita, itulah saat dimana hati kita tersenyum selebar-lebarnya…”
adhitya rachman, Bogor, 26 Desember 2007

 

No Responses to “Cerita 14 : Satir”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: